Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Berzina Masih Lebih Baik Daripada Meninggalkan Sholat Wajib


Ketika ditanyakan kepada Imam Ja’far Al-Shadiq, “mengapa orang yang melakukan perzinaan tidak dianggap kafir ?, sedangkan orang yang meninggalkan shalat divonis kafir ?, Apa alas an anda mengenai pernyataan anda ?. 

Beliau menjawab, “Sebab, orang yang melakukan perzinaan dan sejenisnya, mereka melakukan perbuatan seperti itu disebabkan adanya dorongan nafsu berahi yang memperbudaknya. Namun, lain halnya bagi orang yang meninggalkan shalat, Mereka meninggalkannya karena menyepelekan kewajiban (yang telah ditetapkan oleh Tuhannya). 

Kita perhatikan saja, orang yang melakukan perzinaan dengan salah seorang wanita, pasti dia (memang) menginginkan perbuatan tersebut, bertujuan untuk melakukan dan menikmatinya. Lain halnya dengan orang yang meninggalkan shalat. Mereka memang menghendaki perbuatannya, namun dalam meninggalkannya mereka tidak mengharapkan kenikmatan. 

Nah, jika bukan karena kenikmatan yang dituju, maka itu adalah (termasuk) menyepelekannya. Dan jika dia menyepelekannya dengan sengaja, masuklah dia ke dalam arena kekafiran.”

Hati-hati, jaga diri dari dosa besar
Hati-hati, jaga diri dari dosa besar

Senada dengan hal itu, ada juga kisah Nabi Musa yang kedatangan tamu seorang wanita cantik yang telah berzina dan membunuh bayi hasil hubungan gelapnya tersebut.

Diketuk pintu rumah Musa pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. 

Air matanya berderai tatkala ia berkata,“Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya. ” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.”Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil, Setelah anak itu lahir, langsung saya…….. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya??? 

Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. 

Sepeninggal wanita tersebut, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya? ” 

Nabi Musa pun terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” tanyanya, ” Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina”. 

Sambil terkaget Mendengar penjelasan ini, Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.


02.42 | 0 komentar | Read More

8 Pesan Hikmah Orangtua ke Anak


Lukman Al-Hakim berwasiat kepada putranya, “Hai putraku, ketahuilah bahwa aku telah berkhidmat kepada 400 nabi dan aku telah mendapatkan 4.000 kata hikmah dari mereka, dan dari 4.000 kata hikmah tersebut aku pilih 400, dan dari 400 itu 40 kata, dan dari 40 kata aku ambil 8 kata hikmah, dan 8 kata hikmah tersebut ialah :

8 hikmah dari Lukman Hakim
8 hikmah dari Lukman Hakim
“Lupakanlah dua hal, jangan lupakan dua hal lainnya, dan jagalah empat hal.”

Adapun dua hal yang harus engkau lupakan adalah hendaknya kau lupakan perbuatan baikmu kepada seseorang dan (yang kedua adalah) hendaknya kau lupakan pula perbuatan buruk orang lain terhadapmu.

“Adapun dua hal yang tidak boleh kau lupakan, pertama adalah Tuhan. Janganlah sekali-kali engkau melupakan-Nya (sebab semua maksiat timbul dari lalai dan lupa kepada Allah) dan (yang kedua adalah) kematian (sebab pada saat manusia yakin bahwa dirinya akan mati, ia pasti mempersiapkan bekal bagi perjalanan akhirnya itu)

“Adapun empat hal yang harus selalu engkau jaga :

Pertama, jagalah matamu ketika sedang bertandang ke rumah orang.

Kedua, jagalah lidahmu ketika kamu berada di tengah-tengah masyarakat

Ketiga, jagalah mulutmu dari makanan yang haram. 

Keempat, ketika shalat, jagalah hatimu (yakni setiap kali engkau mengerjakan shalat, jagalah hatimu hanya untuk Allah. Janganlah engkau palingkan kepada selain-Nya).”

02.22 | 0 komentar | Read More

Orang Sholeh Dituduh Maksiat



Pada suatu malam Sultan Murad IV (Sultan Turki Utsmani) merasa sangat galau, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar istana dengan menyamar. Sesuatu yang memang biasa beliau lakukan.

Sultan berkata: "Mari kita keluar, kita berjalan-jalan melihat wargaku".

Mereka pun pergi, udara saat itu sangat panas. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Disentuh dan dibangunkan oleh Sultan, ternyata ia telah wafat. Orang-orang yang lewat di sekitarnya tidak ada yang peduli kepada mayat tersebut.

Maka Sultan memanggil mereka, kemudian mereka bertanya: "Ada apa? Apa yang kau inginkan?".

Sultan berkata: "Mengapa orang ini wafat tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang membawanya? Siapa dia? Dimana keluarganya?"

Mereka berkata: "Orang ini Zindiq, pelaku maksiat, dia selalu minum khamar dan selalu berzina dengan pelacur".

Sultan berkata: "Tapi . . bukankah ia juga umat Muhammad SAW? Ayo angkat dia, kita bawa ke rumahnya".

Mereka pun membawa mayat laki-laki itu ke rumahnya.

Orang Sholeh Dituduh Maksiat
Orang Sholeh Dituduh Maksiat

Ketika sampai di rumahnya, saat istri laki-laki tersebut mengetahui suaminya telah wafat, ia pun menangis. Tapi orang-orang langsung pergi, hanya sang Sultan dan kepala pengawalnya yang masih tinggal.

Kemudian Sultan berkata kepada istri laki-laki itu: "Aku mendengar dari orang-orang disini, mereka berkata bahwa suamimu itu dikenal suka melakukan kemaksiatan ini dan itu, hingga mereka tidak peduli akan kematiannya".

Sang istri pun bercerita:

"Awalnya aku juga menduga seperti itu. Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras (khamar), kemudian membeli sesuai kemampuannya. Ia bawa khamar itu ke rumah, kemudian membuangnya ke dalam toilet, sambil berkata: "Aku telah meringankan dosa kaum muslimin".

Dia juga selalu pergi ke tempat pelacuran, memberi mereka uang dan berkata: "Malam ini merupakan jatah waktuku, jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!".

Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: "Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda Islam".

Tapi, orang-orang yang melihatnya mengira bahwa ia selalu minum khamar dan melakukan perzinahan. Dan berita ini pun menyebar di masyarakat.

Sampai akhirnya suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: 
"Kalau nanti kamu mati, maka tidak akan ada kaum muslimin yang akan memandikan jenazahmu, tidak ada yang akan mensholatimu, tidak ada pula yang menguburkanmu".

Ia hanya tertawa, dan berkata: 
"Jangan takut sayangku, jika aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, oleh para Ulama dan para Auliya".

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata:
"Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya".

Demikianlah, akhirnya pemakaman jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para syeikh dan seluruh warga masyarakat.


Kisah ini diambil dari buku harian Sultan Murad IV (Sultan Turki Utsmani, memerintah Juni 1612 - Februari 1640).

21.25 | 0 komentar | Read More

Anak Kecil yang Menasehati sang Khalifah

Peristiwa tersebut terjadi di suasana berdatangannya rombongan muslimin mewakili wilayah-wilayah Islam. Suasana yang resmi. Di hadapan Amirul Mukminin baru, Umar bin Abdul Aziz. Bukan sekadar seorang Khalifah. Tetapi semua orang tahu bahwa Umar bin Abdul Aziz juga seorang ulama besar. Tentu majlis tersebut, majlis yang dihadiri oleh banyak orang besar di kekhilafahan. Saat suasana seperti itulah, sang anak maju untuk bicara. Di hadapan semua. Dalam suasana resmi negara. Umar bin Abdul Aziz mencegah: Sebentar nak, yang hendaknya bicara adalah orang yang lebih tua dari kamu.

Cerita Motivasi - Anak Ajaib

Anak kecil itu berkata: Sebentar wahai Amirul Mukminin, seseorang itu tergantung dua hal kecil (pada fisiknya); hatinya dan lisannya. Jika Allah memberikan kepada hamba lisan yang mampu bicara dengan baik dan hati yang menjaga maka sungguh ia berhak untuk bicara. Wahai Amirul Mukminin, jika yang boleh maju adalah orang yang lebih tua, maka di umat ini ada orang yang lebih tua dari dirimu (lebih berhak menduduki posisimu).

Umar bin Abdul Aziz pun berkata: Nasehatilah kami, nak dan persingkat!

Anak kecil itu berkata: Ya, wahai Amirul Mukminin. Sebagian orang tertipu dengan kemurahan Allah, panjangnya angan-angan mereka dan sanjungan orang kepada mereka, maka kaki mereka pun terpeleset dan jatuh ke dalam Neraka. Maka janganlah Anda terlena oleh kemurahan Allah, panjangnya angan-angan dan sanjungan orang kepada Anda yang akan menyebabkan kaki Anda terpeleset dan merugikan umat.

Semoga Allah tidak menjadikanmu termasuk seperti mereka dan menyatukanmu bersama orang-orang sholeh dari umat ini.

Kemudian anak itu diam.

Umar bin Abdul Aziz bertanya: Berapa umur anak ini?

Dijawab: 11 tahun

Umar bin Abdul Aziz bertanya tentang anak ini dan ternyata dia adalah anak dari Husain bin Ali radhiallahu anhum....

Umar bin Abdul Aziz pun memujinya dan mendoakannya.

Saat Umar bin Abdul Aziz meragukan usianya yang masih sangat muda, dia mampu ‘menohok’ sang khalifah dengan kalimat yang sopan tetapi dalam. Bahwa kalau usia yang menentukan, tentu di wilayah Islam ini ada orang yang lebih tua dari khalifah yang lebih berhak duduk sebagai khalifah. Kalimat yang tepat dan seketika. Tak surut oleh kalimat orang besar dan di hadapan banyak orang. Tenang dan cerdas. Logis dan tepat.

Kita juga harus belajar dari Umar bin Abdul Aziz. Yang meminta seorang anak kecil hebat untuk memberikan nasehat di forum resmi negara. Ternyata benar kata anak kecil itu, usia bukanlah yang menentukan. Dan akhirnya, kita paham siapa anak kecil tersebut. Hadzasy syiblu min dzakal asad (anak singa kecil ini lahir dari singa besar itu). Tidak ada isitilah kata ia sok tenar, sok ngetop, asalkan untaian kalimahnya mengingatkan kepada Allah, para Shalihin terdahulu generasi terbaik Islam, senantiasa memperhatikan, dan merenungkan. Tidak ada lagi egoisme bila kebenaran yang berasal dari Allah SWT, saat ayat dan hadist disampaikan dan inilah kunci solusi keselamatan dunia dan akherat. Tidak lagi dilihat siapa yang menyampaikan karena ia takut Allah SWT. Sekarang terbalik asal seseorang berharta, menguntungkan, maka ia akan didengarkan dan diangkat-angkat berlebihan pada akhirnya saat ada masa kejatuhannya ia dicampakkan begitu saja.



12.49 | 0 komentar | Read More

Penjara Bukan Halangan untuk Beribadah

Tak seorangpun makhluk ciptaan Allah terlepas dari ujian, cobaan, musibah oleh Allah Rabbul izzati. Bahwasanya ujian itu pasti berupa keburukan dan juga kebaikan. Kala keburukan yang datang dahulu, maka kita harus sabar dan berhudznuzonbillah. Kala kebaikan yang datang maka kita harus bersyukur agar nikmat tersebut bertambah. Sebagaimana firman Allah,


Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan (Al Anbiya :35)



Inilah yang terjadi pada diriku. Panggil saja aku Fatimatul Latiefah, usiaku 22 tahun, berasal dari Solo Jawa Tengah, yang hijrah ke tempat ini. Sebuah istana tepatnya bernama ‘istana uzlah’ Tangerang. Orang-orang menyebutnya ‘penjara’. Dan karena suatu kasus akhirnya menyebabkan diriku ‘terdampar’ di sini dengan takdir Allah.



Sebelum aku masuk ke tempat ini, aku anak perempuan satu-satunya dari keluargaku. Aku termasuk anak yang manja. Saat ini aku sudah berada di ‘istana uzlah’ sebuah bangunan dengan pagar pembatas yang terasing dari dunia luar dengan berbagai peraturan. Di sinilah sekarang aku berada dan belajar bersabar dan hidup mandiri. Rasulullah bersabda,

Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Allah akan mengujinya (HR Bukhori)

Tak mau aku menjadi pribadi yang buruk. Akan kubuktikan bahwa aku kuat, pantang menyerah, begitulah Allah mengajarkan kepada hamba-hambaNya.

‘Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman (QS. Ali Imron 139)

Tak kupungkiri, kerapkali aku merasa sedih karena kesepian karena hampir tak pernah dikunjungi oleh sanak keluargaku. Bisa dibayangkan Tangerang - Solo jauh sekali. Belum lagi biaya transport dll. Terakhir kali aku bertemu ibu, lebaran 2010. Nyaris dua tahun aku tidak bertemu ibuku.

Ketika aku merasa begitu kesepian, aku mengadu pada Allah. Menangis, merintih. Aku berdo’a… terus berdo’a. Ketika ada yang membesukku, siapapun ia, memberi perhatian padaku, hilang kesedihanku seketika. Aku pun merasa semangat kembali. Kepada Allah kuucapkan puji syukur Alhamduillah…

“Bukankah Dia (Allah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya dan menghilangkan segala kesusahan (An Naml 62)

Ya….hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dengan harap dan cemas.

Bagi kami, tempat ini bagai tanah keramat. Tidak ada hijab bagi kita dan Allah dalam do’a. Pertolongan Allah amat dekat, teramat dekat.

Di sini, ketika kita berbuat jahat, menipu, mengadu domba teman, sudah pasti akan kena batunya sendiri. Bentuknya bermacam-macam, bisa nantinya mendapatkan jatuh vonis yang berat, proses sidang yang lama, remisi (potongan hukuman) sedikit, bisa juga selama hidup di sini tidak mendapat ketenangan. Semua yang diperoleh tergantung dari perbuatan kita sendiri. Ini banyak terjadi dalam setiap lapas/rutan manapun.

Aku sendiri, sedang terus memperbaiki diriku. Berusaha berbuat baik sebagai bukti penyesalanku atas kesalahan yang pernah aku perbuat dahulu. Aku takut pada Allah... takut pada adzab-Nya. Tidak bisa kubayangkan bahwa neraka yang terdangkal adalah api neraka yang mendidihkan otak dari bawah sampai atas…

Aku pun mencoba menikmati ujian ini sebagai bentuk kasih sayang Allah kepadaku. Aku berusaha mengubah ujian ini, dari kesedihan menjadi kenikmatan yang jarang didapat oleh orang lain. Aku ingin mendapatkan pahala dariNya, aku ingin Allah meninggikan derajatku dan memperoleh rahmatNya…, yakni surga yang kekal. Tidak ada kesedihan, air mata, resah dan gelisah, sakit dll. Yang ada hanya kebahagiaan bertemu dengan Rabb ku…

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman” (Al Furqon 75-77)

Semua peristiwa yang aku alami ini adalah kehendak-Nya. Aku berada di sini karena perbuatanku sendiri. Meskipun aku menangis darah, yang lalu takkan bisa diulang kembali. Yang bisa kulakukan di sekarang adalah memohon ampun pada Allah atas semua perbuatanku yang melampaui batas dan bertaqarrub padaNya.

Ini adalah hukuman Allah atas pembangkangan yang kulakukan padaNya… juga sebagai penghapus dosa-dosaku sehingga demikian di akhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungkan lagi karena hukuman sudah ditunaikan Allah di dunia.. dan sebagai ujian untuk kenaikan derajat di mata Allah

Rosulullah bersabda,

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya, maka didahulukan baginya hukuman di dunia (berupa musibah dan kesusahan agar terhapus dosa-dosanya) dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi hambaNya, maka Dia akan menahan darinya/membiarkannya dengan dosa-dosanya sehingga (dosa-dosa tersebut) dibalas pada hari kiamat (HR.Tirmidzi)

Dalam istana uzlah ini aku dan berusaha memafaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Allah memberikan kami waktu 24 jam, SAMA antara yang di luar dan di dalam penjara. Selama di sini aku menghafalkan ayat-ayat Al Qur’an, belajar menyulam dan menulis. Kelak, bila aku bebas, dengan izin Allah aku bisa menjadi lebih baik lagi, menata hidup kembali dan senantiasa lebih berhati-hati dalam bertindak.

Aku anggap saja sedang berada di pesantren. Aku hanya terhalang pintu portir yang besar yang membatasi dunia. Di sini toh masih bisa berkarya dan memperbaiki diri. Allah Maha adil,… Allah tidak akan menyia-nyiakan segala sesuatu yang terjadi.

Bagaimanapun , aku bersyukur tatkala masih banyak saudara-saudara yang hidup di bantaran sungai, di bawah kolong jembatan, di bak sampah, mereka bahkan seharian mengais rizki dan tak jarang makan sehari satu kali. Sedangkan aku dan teman-temanku di sini? Kami makan sehari tiga kali dengan lauk yang sehat tanpa harus bersusah-payah. Apakah dengan begitu masih juga tidak ada rasa syukur di hatiku…?

Ya Allah,, mengapa terkadang aku lalai akan nikmatMu…

Ampunilah aku… tak kurangkah udara yang gratis ini.. tak kurangkah pakaian, minuman, makanan, yang telah engkau limpahkan ini…

Pantaskah aku mengeluh…pantaskah aku bersedih… astagfirullah…astaghfirullah…astaghfirullah…

Terkadang aku malu sendiri bila berdoa pada Allah meminta diberikan kesabaran, kebahagiaan, meminta Allah menjauhkan aku dari kesedihan dan penderitaan . Karena sesungguhnya, kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. Allah tidak memberikan kesabaran sampai aku meraihnya sendiri. Pun dengan kebahagiaan. Allah memberiku keberkahan dan hikmah. Kebahagiaan tergantung pada diriku sendiri. Dan sesungguhnya kesedihan dan penderitaan yang Allah berikan untukku, menjauhkan aku dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaku pada-Nya…

Tak terasa… sudah bertahun-tahun lamanya aku menimba ilmu di tempat ini… Allah tidak akan mengingkari janjiNya. Aku tahu bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap yang lapar pasti akan kenyang, setiap yang terpenjara pasti akan terbebas. Dan waktu yang kutunggu-tunggu sebentar lagi, insyaAllah, 9 bulan lagi, aku akan terbebas…

Inilah pengalaman hidupku.. Insya Allah aku akan bermetamorfosis dari wanita yang manja dan pernah tidak berhati-hati dalam bertindak menjadi wanita shalihah... Insya Allah…

Ya Rabbi berilah petunjuk pada kami. Istiqomahkanlah kami jalanMu hingga akhir!!! Amin ya Rabbal’alamin…

PS: kisah seorang narapidana di lapas wanita Tangerang - 2011-




07.58 | 0 komentar | Read More

Kisah Inspirasi; Orang Tua dan Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari china Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua, dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakan mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ketoilet, pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja dikota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking. Anak sulung yang bekerja dikota menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersama dikota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua tersebut naik mobil megitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut diatas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia meletakkan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya dikantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri , perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian.

Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – beragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.

Janganlah kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat

Sumber : kaskus

08.02 | 0 komentar | Read More

Keajaiban Sholat dan Puasa

Keajaiban Sholat dan Puasa


Ali bin Abi Talib r.a berkata : "Sewaktu Rasullullah S.A.W duduk bersama para sahabat muhajirin dan ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata :

' Ya Muhammad, kami hendak tanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.'

Lalu Rasullullah S.A.W. bersabda: 'Silakan bertanya.'

Berkata orang Yahudi: 'Sila terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.'

Sabda Rasullullah S.A.W. : 'Sembahyang Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada tuhanNya, Sembahyang Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi, Sembahyang Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam A.S., maka setiap mukmin yang bersembahyang Maghrib dengan ikhlas kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya.

'Sembahyang Isya' itu ialah sembahyang yang dikerjakan oleh para Rasul-Rasul sebelumku, Sembahyang Subuh adalah sebelum terbit matahari, ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya tiaporang kafir.' Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka mereka berkata: 'Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan didapati olehorang yang sembahyang.'

Rasullullah S.A.W bersabda: 'Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sembahyang yang pertengahan, sembahyang Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam,orang mukimin yang mengerjakan sembahyang pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya wap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.'

Sabda Rasullullah S.A.W. lagi: 'Manakala sembahyang Asar, adalah saat di mana Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi. Orang mukmin yang mengerjakan sembahyang Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.' Setelah itu Rasullullah S.A.W. membaca ayat yang bermaksud: 'Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sekali sembahyang yang pertengahan, sembahyang Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam A.S. diterima. Seorang mukimin yang ikhlas mengerjakan sembahyang Maghrib kemudian meminta sesuatu dari Allah maka Allah akan perkenankan.

'Sabda Rasullullah S.A.W.: 'Sembahyang Isya' (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sembahyang Isya' berjamaah, Allah S.W.T. haramkan dari terkena nyalanya api neraka dan diberinya cahaya untuk menyeberangi titi sirath.'

Sabda Rasullullah S.A.W. seterusnya: 'Sembahyang Subuh pula, seorang mukmin yang mengerjakan sembahyang subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberi oleh Allah S.W.T. dua kebebasan iaitu:

1. Dibebaskan dari api neraka. 2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka mereka berkata: 'Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (S.A.W). Kini katakan pula kepada kami semua kenapakah Allah S.W.T. mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?'.

Sabda Rasullullah S.A.W.: 'Ketika Nabi Adam memakan buah pohon yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam A.S. selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T. mewajibkan ke atas keturunan Adam A.S. berlapar selama 30 hari.

Sementara izin makan diwaktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T. kepada makhlukNya.'

Kata orang Yahudi: 'Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami ganjaran pahala yang diperolehi dari puasa itu.' Sabda Rasullullah S.A.W.: 'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T. dia akan diberi oleh Allah S.W.T.

7 perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh dengan makanan yang haram). 2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya. 3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal. 4. Dijauhkan dari merasa lapar dan haus. 5. Diringan baginya siksa kubur ( siksa yang sangat mengerikan). 6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T. pada hari Kiamat untuk menyeberang titian sirath. 7. Allah S.W.T. akan memberinya kemudian di syurga.

Kata orang Yahudi: 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu antara semua para nabi-nabi.'

Sabda Rasullullah S.A.W.: 'Seorang nabi mengunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat pada umat saya di hari kiamat).'

Kata orang Yahudi: 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan kecuali Allah dan engkau utusan Allah).'


***

Ref:
http://reallife65.blogspot.com
15.50 | 0 komentar | Read More