Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Berzina Masih Lebih Baik Daripada Meninggalkan Sholat Wajib


Ketika ditanyakan kepada Imam Ja’far Al-Shadiq, “mengapa orang yang melakukan perzinaan tidak dianggap kafir ?, sedangkan orang yang meninggalkan shalat divonis kafir ?, Apa alas an anda mengenai pernyataan anda ?. 

Beliau menjawab, “Sebab, orang yang melakukan perzinaan dan sejenisnya, mereka melakukan perbuatan seperti itu disebabkan adanya dorongan nafsu berahi yang memperbudaknya. Namun, lain halnya bagi orang yang meninggalkan shalat, Mereka meninggalkannya karena menyepelekan kewajiban (yang telah ditetapkan oleh Tuhannya). 

Kita perhatikan saja, orang yang melakukan perzinaan dengan salah seorang wanita, pasti dia (memang) menginginkan perbuatan tersebut, bertujuan untuk melakukan dan menikmatinya. Lain halnya dengan orang yang meninggalkan shalat. Mereka memang menghendaki perbuatannya, namun dalam meninggalkannya mereka tidak mengharapkan kenikmatan. 

Nah, jika bukan karena kenikmatan yang dituju, maka itu adalah (termasuk) menyepelekannya. Dan jika dia menyepelekannya dengan sengaja, masuklah dia ke dalam arena kekafiran.”

Hati-hati, jaga diri dari dosa besar
Hati-hati, jaga diri dari dosa besar

Senada dengan hal itu, ada juga kisah Nabi Musa yang kedatangan tamu seorang wanita cantik yang telah berzina dan membunuh bayi hasil hubungan gelapnya tersebut.

Diketuk pintu rumah Musa pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. 

Air matanya berderai tatkala ia berkata,“Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya. ” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.”Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil, Setelah anak itu lahir, langsung saya…….. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya??? 

Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. 

Sepeninggal wanita tersebut, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya? ” 

Nabi Musa pun terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” tanyanya, ” Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina”. 

Sambil terkaget Mendengar penjelasan ini, Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.


02.42 | 0 komentar | Read More

Anak Kecil yang Menasehati sang Khalifah

Peristiwa tersebut terjadi di suasana berdatangannya rombongan muslimin mewakili wilayah-wilayah Islam. Suasana yang resmi. Di hadapan Amirul Mukminin baru, Umar bin Abdul Aziz. Bukan sekadar seorang Khalifah. Tetapi semua orang tahu bahwa Umar bin Abdul Aziz juga seorang ulama besar. Tentu majlis tersebut, majlis yang dihadiri oleh banyak orang besar di kekhilafahan. Saat suasana seperti itulah, sang anak maju untuk bicara. Di hadapan semua. Dalam suasana resmi negara. Umar bin Abdul Aziz mencegah: Sebentar nak, yang hendaknya bicara adalah orang yang lebih tua dari kamu.

Cerita Motivasi - Anak Ajaib

Anak kecil itu berkata: Sebentar wahai Amirul Mukminin, seseorang itu tergantung dua hal kecil (pada fisiknya); hatinya dan lisannya. Jika Allah memberikan kepada hamba lisan yang mampu bicara dengan baik dan hati yang menjaga maka sungguh ia berhak untuk bicara. Wahai Amirul Mukminin, jika yang boleh maju adalah orang yang lebih tua, maka di umat ini ada orang yang lebih tua dari dirimu (lebih berhak menduduki posisimu).

Umar bin Abdul Aziz pun berkata: Nasehatilah kami, nak dan persingkat!

Anak kecil itu berkata: Ya, wahai Amirul Mukminin. Sebagian orang tertipu dengan kemurahan Allah, panjangnya angan-angan mereka dan sanjungan orang kepada mereka, maka kaki mereka pun terpeleset dan jatuh ke dalam Neraka. Maka janganlah Anda terlena oleh kemurahan Allah, panjangnya angan-angan dan sanjungan orang kepada Anda yang akan menyebabkan kaki Anda terpeleset dan merugikan umat.

Semoga Allah tidak menjadikanmu termasuk seperti mereka dan menyatukanmu bersama orang-orang sholeh dari umat ini.

Kemudian anak itu diam.

Umar bin Abdul Aziz bertanya: Berapa umur anak ini?

Dijawab: 11 tahun

Umar bin Abdul Aziz bertanya tentang anak ini dan ternyata dia adalah anak dari Husain bin Ali radhiallahu anhum....

Umar bin Abdul Aziz pun memujinya dan mendoakannya.

Saat Umar bin Abdul Aziz meragukan usianya yang masih sangat muda, dia mampu ‘menohok’ sang khalifah dengan kalimat yang sopan tetapi dalam. Bahwa kalau usia yang menentukan, tentu di wilayah Islam ini ada orang yang lebih tua dari khalifah yang lebih berhak duduk sebagai khalifah. Kalimat yang tepat dan seketika. Tak surut oleh kalimat orang besar dan di hadapan banyak orang. Tenang dan cerdas. Logis dan tepat.

Kita juga harus belajar dari Umar bin Abdul Aziz. Yang meminta seorang anak kecil hebat untuk memberikan nasehat di forum resmi negara. Ternyata benar kata anak kecil itu, usia bukanlah yang menentukan. Dan akhirnya, kita paham siapa anak kecil tersebut. Hadzasy syiblu min dzakal asad (anak singa kecil ini lahir dari singa besar itu). Tidak ada isitilah kata ia sok tenar, sok ngetop, asalkan untaian kalimahnya mengingatkan kepada Allah, para Shalihin terdahulu generasi terbaik Islam, senantiasa memperhatikan, dan merenungkan. Tidak ada lagi egoisme bila kebenaran yang berasal dari Allah SWT, saat ayat dan hadist disampaikan dan inilah kunci solusi keselamatan dunia dan akherat. Tidak lagi dilihat siapa yang menyampaikan karena ia takut Allah SWT. Sekarang terbalik asal seseorang berharta, menguntungkan, maka ia akan didengarkan dan diangkat-angkat berlebihan pada akhirnya saat ada masa kejatuhannya ia dicampakkan begitu saja.



12.49 | 0 komentar | Read More

Penjara Bukan Halangan untuk Beribadah

Tak seorangpun makhluk ciptaan Allah terlepas dari ujian, cobaan, musibah oleh Allah Rabbul izzati. Bahwasanya ujian itu pasti berupa keburukan dan juga kebaikan. Kala keburukan yang datang dahulu, maka kita harus sabar dan berhudznuzonbillah. Kala kebaikan yang datang maka kita harus bersyukur agar nikmat tersebut bertambah. Sebagaimana firman Allah,


Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan (Al Anbiya :35)



Inilah yang terjadi pada diriku. Panggil saja aku Fatimatul Latiefah, usiaku 22 tahun, berasal dari Solo Jawa Tengah, yang hijrah ke tempat ini. Sebuah istana tepatnya bernama ‘istana uzlah’ Tangerang. Orang-orang menyebutnya ‘penjara’. Dan karena suatu kasus akhirnya menyebabkan diriku ‘terdampar’ di sini dengan takdir Allah.



Sebelum aku masuk ke tempat ini, aku anak perempuan satu-satunya dari keluargaku. Aku termasuk anak yang manja. Saat ini aku sudah berada di ‘istana uzlah’ sebuah bangunan dengan pagar pembatas yang terasing dari dunia luar dengan berbagai peraturan. Di sinilah sekarang aku berada dan belajar bersabar dan hidup mandiri. Rasulullah bersabda,

Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Allah akan mengujinya (HR Bukhori)

Tak mau aku menjadi pribadi yang buruk. Akan kubuktikan bahwa aku kuat, pantang menyerah, begitulah Allah mengajarkan kepada hamba-hambaNya.

‘Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman (QS. Ali Imron 139)

Tak kupungkiri, kerapkali aku merasa sedih karena kesepian karena hampir tak pernah dikunjungi oleh sanak keluargaku. Bisa dibayangkan Tangerang - Solo jauh sekali. Belum lagi biaya transport dll. Terakhir kali aku bertemu ibu, lebaran 2010. Nyaris dua tahun aku tidak bertemu ibuku.

Ketika aku merasa begitu kesepian, aku mengadu pada Allah. Menangis, merintih. Aku berdo’a… terus berdo’a. Ketika ada yang membesukku, siapapun ia, memberi perhatian padaku, hilang kesedihanku seketika. Aku pun merasa semangat kembali. Kepada Allah kuucapkan puji syukur Alhamduillah…

“Bukankah Dia (Allah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya dan menghilangkan segala kesusahan (An Naml 62)

Ya….hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dengan harap dan cemas.

Bagi kami, tempat ini bagai tanah keramat. Tidak ada hijab bagi kita dan Allah dalam do’a. Pertolongan Allah amat dekat, teramat dekat.

Di sini, ketika kita berbuat jahat, menipu, mengadu domba teman, sudah pasti akan kena batunya sendiri. Bentuknya bermacam-macam, bisa nantinya mendapatkan jatuh vonis yang berat, proses sidang yang lama, remisi (potongan hukuman) sedikit, bisa juga selama hidup di sini tidak mendapat ketenangan. Semua yang diperoleh tergantung dari perbuatan kita sendiri. Ini banyak terjadi dalam setiap lapas/rutan manapun.

Aku sendiri, sedang terus memperbaiki diriku. Berusaha berbuat baik sebagai bukti penyesalanku atas kesalahan yang pernah aku perbuat dahulu. Aku takut pada Allah... takut pada adzab-Nya. Tidak bisa kubayangkan bahwa neraka yang terdangkal adalah api neraka yang mendidihkan otak dari bawah sampai atas…

Aku pun mencoba menikmati ujian ini sebagai bentuk kasih sayang Allah kepadaku. Aku berusaha mengubah ujian ini, dari kesedihan menjadi kenikmatan yang jarang didapat oleh orang lain. Aku ingin mendapatkan pahala dariNya, aku ingin Allah meninggikan derajatku dan memperoleh rahmatNya…, yakni surga yang kekal. Tidak ada kesedihan, air mata, resah dan gelisah, sakit dll. Yang ada hanya kebahagiaan bertemu dengan Rabb ku…

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman” (Al Furqon 75-77)

Semua peristiwa yang aku alami ini adalah kehendak-Nya. Aku berada di sini karena perbuatanku sendiri. Meskipun aku menangis darah, yang lalu takkan bisa diulang kembali. Yang bisa kulakukan di sekarang adalah memohon ampun pada Allah atas semua perbuatanku yang melampaui batas dan bertaqarrub padaNya.

Ini adalah hukuman Allah atas pembangkangan yang kulakukan padaNya… juga sebagai penghapus dosa-dosaku sehingga demikian di akhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungkan lagi karena hukuman sudah ditunaikan Allah di dunia.. dan sebagai ujian untuk kenaikan derajat di mata Allah

Rosulullah bersabda,

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya, maka didahulukan baginya hukuman di dunia (berupa musibah dan kesusahan agar terhapus dosa-dosanya) dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi hambaNya, maka Dia akan menahan darinya/membiarkannya dengan dosa-dosanya sehingga (dosa-dosa tersebut) dibalas pada hari kiamat (HR.Tirmidzi)

Dalam istana uzlah ini aku dan berusaha memafaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Allah memberikan kami waktu 24 jam, SAMA antara yang di luar dan di dalam penjara. Selama di sini aku menghafalkan ayat-ayat Al Qur’an, belajar menyulam dan menulis. Kelak, bila aku bebas, dengan izin Allah aku bisa menjadi lebih baik lagi, menata hidup kembali dan senantiasa lebih berhati-hati dalam bertindak.

Aku anggap saja sedang berada di pesantren. Aku hanya terhalang pintu portir yang besar yang membatasi dunia. Di sini toh masih bisa berkarya dan memperbaiki diri. Allah Maha adil,… Allah tidak akan menyia-nyiakan segala sesuatu yang terjadi.

Bagaimanapun , aku bersyukur tatkala masih banyak saudara-saudara yang hidup di bantaran sungai, di bawah kolong jembatan, di bak sampah, mereka bahkan seharian mengais rizki dan tak jarang makan sehari satu kali. Sedangkan aku dan teman-temanku di sini? Kami makan sehari tiga kali dengan lauk yang sehat tanpa harus bersusah-payah. Apakah dengan begitu masih juga tidak ada rasa syukur di hatiku…?

Ya Allah,, mengapa terkadang aku lalai akan nikmatMu…

Ampunilah aku… tak kurangkah udara yang gratis ini.. tak kurangkah pakaian, minuman, makanan, yang telah engkau limpahkan ini…

Pantaskah aku mengeluh…pantaskah aku bersedih… astagfirullah…astaghfirullah…astaghfirullah…

Terkadang aku malu sendiri bila berdoa pada Allah meminta diberikan kesabaran, kebahagiaan, meminta Allah menjauhkan aku dari kesedihan dan penderitaan . Karena sesungguhnya, kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. Allah tidak memberikan kesabaran sampai aku meraihnya sendiri. Pun dengan kebahagiaan. Allah memberiku keberkahan dan hikmah. Kebahagiaan tergantung pada diriku sendiri. Dan sesungguhnya kesedihan dan penderitaan yang Allah berikan untukku, menjauhkan aku dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaku pada-Nya…

Tak terasa… sudah bertahun-tahun lamanya aku menimba ilmu di tempat ini… Allah tidak akan mengingkari janjiNya. Aku tahu bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap yang lapar pasti akan kenyang, setiap yang terpenjara pasti akan terbebas. Dan waktu yang kutunggu-tunggu sebentar lagi, insyaAllah, 9 bulan lagi, aku akan terbebas…

Inilah pengalaman hidupku.. Insya Allah aku akan bermetamorfosis dari wanita yang manja dan pernah tidak berhati-hati dalam bertindak menjadi wanita shalihah... Insya Allah…

Ya Rabbi berilah petunjuk pada kami. Istiqomahkanlah kami jalanMu hingga akhir!!! Amin ya Rabbal’alamin…

PS: kisah seorang narapidana di lapas wanita Tangerang - 2011-




07.58 | 0 komentar | Read More

Kisah Inspirasi; Orang Tua dan Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari china Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua, dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakan mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ketoilet, pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja dikota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking. Anak sulung yang bekerja dikota menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersama dikota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua tersebut naik mobil megitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut diatas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia meletakkan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya dikantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri , perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian.

Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – beragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.

Janganlah kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat

Sumber : kaskus

08.02 | 0 komentar | Read More