Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan

Setan Insyaf Ikut Sholat


Sholat 5 waktu adalah wajib didalam Islam, dan sebaiknya dilaksanakan secara berjamaah. Nah, terkait dengan Sholat berjamaah tersebut ada sebuah cerita lucu dimana pada suatu hari ada seorang Kyai, Gus Mus namanya. Beliau ceritanya lagi mudik lebaran. 

Dalam perjalanan pulang kampung yang jauh tersebut beliau berhenti di sebuah masjid untuk sholat dan sekedar melepas lelah. Seperti biasa beliaupun bewudhu lalu masuk ke masjid dan bersiap melaksanakan sholat.

Saat mengikuti sholat berjama’ah di masjid itu, seorang berjubah cingkrang memepet-mepetkan kakinya agar menempel ke kaki Gus Mus. 

Karena kaki orang itu kelihatan kotor sekali dan Gus Mus curiga dia ber-gudhik*  maka Gus Mus justru menjauhkan kakinya. Tapi orang itu ngotot dan terus mengejar-ngejar kaki Gus Mus!

Usai sholat, orang tersebut marah-marah.

“Mengapa kamu tidak mau merapatkan barisan?”
“Memangnya kenapa?” Gus Mus berlagak blo’on.
“Kalau sampai ada celah diantara kita, setan nyelip disitu!”
“Bagus dong!”
“Lho?” Kata orang itu makin marah.
“Kalau setan mau nyelip ikut sholat jama’ah, berarti dia sudah insyaf!”

:-D :-D 

Konon, orang itupun cuma bisa diam sambil menahan marah.

*Gudhik adalah penyakit kulit, biasanya disekitar jari kaki.

Shaf Sholat
Shaf Sholat

02.10 | 0 komentar | Read More

Rahasia Waktu Shalat Terhadap Kesehatan Tubuh

Waktu Shalat Dengan Kesehatan Tubuh

A. Waktu Shalat Subuh
Dalam buku Pengobatan Dengan Shalat, Dr. Zahir Rabih mengatakan, “sesungguhnya hormone kortisol yang merupakan hormon aktivitas dalam tubuh manusia mulai bertambah seiring dengan masuknya waktu shalat fajar. Seiring dengan pertambahan produksi hormone tersebut, tekanan darah juga mengalami kenaikan secara bertahap. Karena itulah manusia merasa sangat bergairah dan memiliki semangat yang besar setelah shalat fajar antara pukul enampagi hingga Sembilan pagi. Karena itu pulalah waktu itu dianggap sebagai waktu yang paling baik untuk bekerja dan dan mencari rezeki.”

Cahaya memacu tubuh untuk memproduksi hormone aktivitas, termasuk hormone yang mendorong produksi kortisol dan hormone seksual (pada tengah hari). Pada waktu yang sama, tubuh diperintah untuk menurunkan produksi hormone melatonin yang dihasilkan kelenjar pineal. Pada waktu fajar, berlangsung beberapa gejala dalam tubuh yaitu:
- 1. Pertambahan hormone kortisol
- 2. Pertambahan kadar gula serta sekresi lemak dan protein
- 3. Tubuh membutuhkan tambahan energy untuk melakukan aktivitas siang hari

Pada saat tidur terjadi pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah karena tubuh tidak bergerak, oleh karena pagi – pagi dibutuhkan olahraga. Namun ternyata, gerakan gerakan – gerakan tubuh dalam shalat fajar sudah cukup menjadi sarana untuk mencairkan endapan lemak dalam tubuh.

B. Waktu Shalat Zuhur
Kebalikannya kita dapatkan pada waktu Zuhur. Pada waktu tersebut hormone kortisol berkurang hingga mencapai kadar yang paling rendah. Akibatnya, manusia merasa lelah akibat tekanan pekerjaan dan ia membutuhkan istirahat. Ini terjadi kira – kira tujuh jam dari saat bangun pagi, Saat itulah masuk waktu salat zuhur. Kedatangan waktu zuhur bertepatan dengan kondisi tubuh yang membutuhkan istirahat dan ketenangan sehingga jantung, otak, dan seluruh system metabolism tubuh bisa beristirahat, dan solat merupakan kegiatan yang salah satunya untuk mengistirahatkan jiwa.

Waktu tengah hari ditandai dengan gejala – gejala sebagau berikut:
- 1. Kadar testosterone mengalami peningkatan hingga mencapai puncaknya
- 2. Kadar hormone adrenalin masih cukup tinggi
- 3. Perasaan lapar mendorong lahirnya rasa gelisah dan waswas
- 4. Kerja jantung meningkat sehingga dibutuhkan sejenak waktu tidur

C. Waktu Shalat Asar
Kemudian datang waktu Ashar untuk mengembalikan tubuh pada semangatnya sekali lagi dan meningkatkan kadar adrenalin dalam darah. Pada saat itu muncul kembali energy yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas seluruh organ tubuh terutama aktivitas jantung. Saat tiba waktu Ashar, tubuh kembali bersiap – siap menyambut produksi energy baru sehingga saat seperti itu sangat bermanfaat jika dipergunakan untuk berolahraga dan menggerakkan tubuh agar jantung dan metabolism tubuh bisa kembali bekerja secara normal. Para penderita penyakit jantung sering kali mengalami serang jantung jika mereka terlalu lama beristirahat.
Shalat Ashar memiliki peran penting untuk sekali lagi menyiapkan tubuh menghadapi peningkatan produksi kortisol yang mendadak. Persiapan dan penyesuaian dibutuhkan oleh tubuh agar organ – organ tubuh terhindar dari shock (keterkejutan).

D. Waktu Shalat Magrib
Ketika datang waktu magrib, produksi hormone kortisol menurun, dan kekuatan tubuh juga mulai berkurang, seiring dengan pergantian hari dari terang menuju gelap. Keadaan Magrib merupakan kebalikan dari keadaan Subuh. Pada waktu magrib, produksi hormone melatonin mulai bertambah yang mendorong seseorang untuk beristirahat dan tidur. Tubuh mulai dilanda rasa malas dan lelah. Shalat magrib merupakan saat peralihan antara periode aktivitas dan periode istirahat. Shalat magrib tiga rakaat seakan – akan menjadi sarana relaksasi bagi tubuh sehingga tubuh bisa menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis tiba – tiba yang mengiringi penurunan kadar hormone kortisol.

E. Waktu Shalat Isya
Waktu shalat Isya merupakan tahapan terakhir dalam perjalanan satu hari. Waktu Isya merupakan waktu peralihan dari keadaan semangat untuk bekerja dan beraktivitas menuju keadaan istirahat penuh dan keinginan untuk tidur, seiring dengan semakin pekatnya kegelapan yang meliputi bumi, dan seiring dengan meningkatnya produksi hormone melatonin. Karena itulah umat Islam dianjurkan untuk mengakhirakan Shalat Isya hingga beberapa saat sebelum tidur sebagai penutup seluruh aktivitas kehidupan pada hari itu.

Sholat 
Ini saya hadirkan grafik ACTH (Adrenocoticotropic Hormone), hormon yang berpengaruh terhadap sekresi kortisol. jadi kalo ACTH meningkat otomatis kortisol juga meningkat. ^_^ (ini saya ambil dari buku Greenspan Endocrinology)
Grafik ACTH
Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

07.56 | 0 komentar | Read More

Menjawab Pertanyaan Benarkah Kaum Syi’ah Sholat hanya 3 x Sehari


Sholat dalam Islam Syiah dan Sunni

Menjawab Pertanyaan Benarkah Kaum Syi’ah Sholat hanya 3 x Sehari ?


Artikel dibawah ini sengaja saya post ulang dari blog http://syiahali.wordpress.com berkaitan dengan pertanyaan beberapa rekan yang mendengar kabar bahwa katanya dalam islam Syiah mereka melakukan sholat hanya 3 kali sehari (bukan 5 kali sehari seperti ajaran Al-Quran).

Untuk lebih jelasnya silahkan baca uraian berikut:


Shalat


  • Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang Muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.
Nabi (s) bersabda “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sembahyang (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 1939)”. Shalat merupakan salah satu daripada Furu’ ud-Din (cabang agama) yang tanpanya maka tidak sempurnalah agama seseorang itu. Waktu-waktu Shalat dalam mazhab Syiah ialah:
1 – Waktu Shalat Subuh, dari terbit fajar hingga terbit matahari


2- Waktu Shalat Zuhur dan Asar, ketika matahari tegak di atas kepala hingga bergerak ke arah maghrib (barat)


3- Waktu Shalat Maghrib dan Isya’, selepas terbenam matahari hingga ke pertengahan malam.
Nabi (s) telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. Shalat seperti telah diamalkan oleh orang-orang Syiah sejak zaman Rasulullah (s). (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.





                                                                                             
Hadis tentang Shalat itu ditemui juga dalam sahih Bukhari (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 307, 310).
Shalat Asar saat matahari belum tergelincir:
Shalat Asar sesudah Shalat Zuhur:
Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –
Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnya
Malik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”
Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”
ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat
Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.
Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu. Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.
Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.
Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.



Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran
Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnya



Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”
ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat
Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.
Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu. Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.
Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.
Orang yang tidak sengaja sehingga telat bangun sehingga telat shalat subuh :
Hal ini ada keringanan dalam Syari’at sebagaimana dalam hadits berikut ini :
Dari Anas bin Malik Rodhiyalloohu ‘Anh. Bahwa Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya.” (HR Muttafaqun ‘alayh).
Waktu solat mengikut al-Quran
Allah (swt) berfirman dalam kitabNya yang suci:
“Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam, dan (dirikanlah) sembahyang subuh sesungguhnya sembahyang subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya).” 
Qur’an 17:78
Waktu solat menurut al-Quran adalah tiga, bukan lima.
  1. Gelincir Matahari
  2. Waktu Gelap Malam
  3. Waktu Subuh.
Imam Fakhruddin Razi, pengulas al-Quran terkenal Sunni, menulis berkenaan ayat yang dipetik (Surah 17, Ayat 78):
“Jika kita menafsirkan waktu gelap malam (ghasaq) sebagai masa apabila kegelapan mula muncul maka terma ghasaq merujuk kepada bermulanya Maghrib. Berdasarkan hal ini, tiga waktu disebut dalam ayat: ‘waktu tergelincir matahari, waktu bermulanya Maghrib dan waktu Fajar’. Ini menyatakan bahawa waktu tergelincir matahari adalah waktu untuk Zuhur dan Asar, waktu ini dikongsi oleh dua solat ini. Waktu bermulanya Maghrib adalah adalah waktu untuk Maghrib dan Isyak maka waktu ini juga dikongsi oleh dua solat ini. Hal ini memerlukan kebolehan untuk menjamak antara Zuhur dan Asar serta antara Magnrib dan Isyak pada setiap masa. Akan tetapi terdapat bukti yang menunjukkan bahawa manjamak ketika di rumah tanpa sebarang alasan adalah tidak dibenarkan. Hal ini menjurus kepada pandangan bahawa menjamak adalah dibolehkan apabila sedang bemusafir atau apabila hujan dll.” 
Sementara kami akan InsyaAllah menyangkal komentar Razi berkenaan menjamak tanpa sebab adalah tidak dibenarkan, apa yang kita dapat dari sini adalah masa untuk solat fardhu hanyalah tiga:
1). Masa untuk dua solat fardhu, Zuhur (tengah hari) dan Asar (petang), yang dikongsi oleh keduanya.
2). Masa untuk dua solat fardhu, Maghrib (senja) dan Isyak (malam) yang juga dikongsi oleh keduanya.
3). Masa untuk solat Subuh (pagi) yang hanya spesifik untuknya sahaja.
Kami melaksanakan solat Zuhur dan Asar dan kemudian solat Maghrib dan Isyak dalam satu satu masa. Kami tidak melakukannya hanya berdasarkan penghakiman kami, malah hal ini dilakukan kerana ianya adalah Sunnah Nabi Muhammad (s). Adalah dilaporkan dalam Sahih Bukhari bahawa Ibn Annas [r] berkata:
“Aku mengerjakan lapan rakaat (Zuhur dan Asar) dan tujuh rakaat (Maghrib dan Isyak) pada satu satu masa bersama Nabi Muhammad (s) (dengan tiada solat sunat diantaranya.)” Umru berkata bahawa dia berkata kepada Abul Shaqa: “Aku fikir Nabi (s) mengerjakan Zuhur sedikit lewat dan Asar sedikit awal, dan Isyak sedikit awal, Maghrib sedikit lewat, Abul Shaqa menjawab bahawa dia juga merasakan yang sama.”
Kita baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 537, Bab Waktu Solat:
Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
Rasul Allah (salam dan salawat ke atasnya) melakukan di Madinah tujuh (rakaat) dan lapan (rakaat), i.e. (menjamak) solat tengah hari (Zuhur) dan petang (Asar) (lapan rakaat) dan solat senja (Maghrib) dan malam (Isyak) (tujuh rakaat).
Dalam mengulas mengenai hadis ini, pada muka surat yang sama dalam Tayseer al-Bari, Allamah Waheed uz Zaman berkata:
“Hadis ini agak jelas di mana dua solat boleh dilakukan pada satu masa. Hadis yang kedua memberitahu kita mengenai insiden di Madinah sewaktu tiada rasa takut mahupun sebarang paksaan. Telah pun disebut di atas bahawa Ahli Hadis menganggapnya dibolehkan, dan dalam kitab-kitab Imamiah terdapat banyak hadis-hadis dari Imam Hadis dalam bab menjamak (solat) dan tiada alasan untuk hadis-hadis ini dikategorikan sebagai palsu”.
Kita juga baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 518:
Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
“Nabi (s) melakukan solat lapan rakaat untuk Zuhur dan Asar, dan tujuh untuk solat Maghrib dan Isyak di Madinah.” Aiyub berkata, “Berkemungkinan ianya pada malam yang hujan.” Anas berkata, “Mungkin.”
Dalam ulasan berbahasa Urdu Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, dalam mengulas ungkapan terakhir Jabir di mana dia menduga bahawa berkemungkinan ianya malam yang hujan, Allamah Waheed uz-Zaman menulis:
“Kata-kata Jabir adalah berdasarkan kemungkinan, kesalahannya telah dibuktikan oleh riwayat Sahih Muslim yang menyatakan bahawa tiada hujan mahupun sebarang perasaan takut yang wujud.”
Maulana Waheed uz-Zaman menulis lagi:
“Ibn Abbas dalam riwayat yang lain berkata bahawa Nabi Muhammad (s) melakukannya untuk menyelamatkan umatnya dari sebarang kesukaran.” 
Dalam perkaitan ini riwayat Sunni juga menyingkirkan sebarang tanggapan bahawa jamak tersebut mungkin dilakukan kerana keadaan cuaca yang buruk:
Nabi Muhammad (s) bersolat di Madinah, ketika bermastautin di sana, tidak bermusafir, tujuh dan lapan (ini merujuk kepada tujuh rakaat Maghrib dan Isyak dijamakkan, dan lapan rakaat Zuhur dan Asar dijamakkan).
Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, Jilid 1, m.s 221
“Nabi Muhammad (s) melakukan solat Zuhur dan Asar secara jamak serta Maghrib dan Isyak secara jamak tanpa perasaan takut mahupun dalam bermusafir.”
Malik ibn Anas, al-Muwatta’, Jilid 1, m.s 161
Sekarang mari kita lihat kepada hadis dari Sahih Muslim:
Ibn ‘Abbas melaporkan bahawa Rasul Allah (s) menjamak solat Zuhur dan Asar serta solat Maghrib dan Isyak di Madinah tanpa berada dalam keadaan merbahaya mahupun hujan. Dan di dalam sebuah hadis yang dirawikan oleh Waki’ (kata-katanya ialah): “Aku berkata kepada Ibn ‘Abbas: Apa yang membuatkan baginda melakukan hal tersebut? Dia berkata: Supaya umatnya (Rasulullah) tidak diletakkan dalam keadaan sukar (yang tidak diperlukan).”
Kami telah mengambil hadis ini dari sumber Sunni berikut:
  1. Sahih Muslim (terjemahan Inggeris), Kitab al-Salat, Buku 4, Bab 100 Menjamak solat apabila seseorang dalam bermastautin, hadis no. 1520;
  2. Jami al-Tirmidhi, Jilid 1, m.s 109, diterjemah oleh Badee’ uz-Zaman, diterbitkan oleh kedai buku No’mani, bazaar Urdu Lahore.
  3. Sunan Abi Daud, jilid 1, m.s 490, Bab: ‘Menjamak Solat’, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman
Dalam ulasannya mengenai hadis ini, Zaman menyatakan:
Terdapat dua jenis jamak solat, Jamak Taqdeem dan Jamak Takheer, yang awal bermaksud melaksanakan solat Asar pada waktu Zuhur dan Isyak pada waktu Maghrib, dan yang terkemudian adalah melakukan solat Zuhur pada waktu Asar dan Maghrib pada waktu Isyak, kedua-dua jenis adalah terbukti sah dari Sunnah Rasulullah.
Sunan Abu Daud, jilid 1, m.s 490, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman, diterbitkan di Lahore
Maulana Waheed uz-Zaman membuat rumusan pada muka surat yang sama dengan menyatakan:
“Hujah-hujah yang menentang jamak solat adalah lemah, sementara yang membenarkannya adalah kuat.”
Sunan Abu Daud, volume 1, page 490, translated by Maulana Waheed uz-Zaman, published in Lahore
Shah Waliullah Dehalwi menyatakan dalam Hujutallah Balagha, m.s 193:
Masa untuk solat sebenarnya adalah tiga, iaitu pagi, Zuhur dan pada waktu gelap malam dan ini adalah maksud kepada firman Allah ‘Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari’. Dan Dia berfirman hingga waktu gelap malam kerana masa untuk menunaikan solat Zuhur adalah sehingga matahari terbenam oleh kerana tiada kerenggangan antara duanya, maka, dalam keperluan, adalah dibolehkan untuk menjamak Zuhur dan Asar serta Maghrib dan Isyak
Sekarang kami sediakan testimoni Sahabat yang disayangi Ahli Sunnah bernama Abu Hurairah mengenai dibolehkan untuk menjamak solat. Kita baca dalam Musnad Ahmad:
Abdullah bin Shaqiq meriwayatkan bahawa pernah sekali selepas Asar, Ibn Abbas tinggal sehingga matahari terbenam dan bintang muncul, lalu orang berkata: ‘Solat’ dan di antara yang berkata adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang berkata: ‘Solat, solat’. Lalu dia (Ibn Abbas) manjadi marah dan berkata: ‘Bolehkah kamu mengajarku Sunnah!! Aku melihat Rasul Allah (sawa) menjamak solat Zuhur dan Asar, serta Maghrib dan Isyak’. Abdullah (bin Shaqiq) berkata: ‘Aku mempunyai keraguan mengenai perkara ini maka aku berjumpa Abu Hurairah dan bertanya kepadanya dan dia bersetuju dengan beliau (Ibn Abbas)’. 

Shaykh Shu’aib al-Arnaout berkata:
‘Rataiannya adalah Sahih mengikut standard Muslim’.
Kami juga akan menyebut amalan Sahabat terkenal Anas bin Malik dan testimoninya mengenai mengerjakan solat Asar pada waktu Zuhur. Kita bca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 524:
Diriwayatkan Abu Bakr bin Uthman bin Sahl bin Hunaif:
bahawa dia mendengar Abu Umama berkata: Kami melakukan solat Zuhur bersama ‘Umar bin Abdul Aziz dan kemudian pergi kepada Anas bin Malik dan menjumpainya melakukan Solat Asar. Aku bertanya kepadanya, “Wahai pakcik! Solat apa yang kamu lakukan?” Dia berkata ‘Solat Asar dan ini adalah (waktu) solat Rasul Allah yang mana kami pernah bersolat bersama baginda.”
Riwayat ini memperkukuhkan tafsiran ayat 17:78 oleh Fakhruddin al-Razi yang mana menurutnya masa untuk melakukan Zuhur dan Asar adalah sama.
Melakukan dua solat dengan satu Azan
Apabila sudah terbukti bahawa jamak solat bukanlah satu pembaharuan, malah adalah Sunnah Nabi Muhammad (s) untuk menyelamatkan umatnya dari kesukaran, kita dibenarkan untuk menggunakan kemudahan ini. Mereka perlu tahu bahawa oleh kerana Sunnah Nabi membenarkan para jemaah untuk berkumpul di dalam masjid untuk solat Zohor dan Asar, kemudian panggilan kedua untuk solat Asar dan Isyak dilaungkan didalam masjid tanpa pembesar suara dan kemudian solat ditunaikan. Cara yang sama juga turut dipetik oleh ulama Sunni.
Allamah Abdul Rehman al-Jazeeri menulis:
“Cara yang betul untuk menghimpun orang untuk bersolat adalah dengan melaungkan azan Maghrib dengan suara kuat yang biasa, kemudian selepas azan, masa diperlukan untuk melakukan solat tiga rakaat perlu ditangguhkan. Kemudian solat Maghrib perlu dilaksanakan dan kemudian adalah elok untuk melaungkan azan Isyak di dalam masjid, azan sepatutnya tidak dilaungkan dari menara supaya ianya tidak akan memberi tanggapan bahawa masa tersebut adalah masa kebiasaan untuk solat Isyak, oleh sebab itulah azan tersebut perlu dilaungkan dengan suara perlahan dan kemudian solat Isyak boleh dilaksanakan.” 
Al-Fiqa al-Al Madahib al-Arba’a, jilid 1 m.s 781, diterjemah oleh Manzoor Ahmed Abbas, diterbitkan oleh Akademi Ulama, Charity department Punjab
Jelas dari sini, berdasarkan dalil-dalil yang sahih,menjamakkan solat walaupun bukan dalam keadaan yang memerlukan adalah mubah dan sah. Ini bertepatan dengan cara yang diikuti oleh pengikut Mazhab Ahlulbait(as).
***





03.30 | 0 komentar | Read More

Hukum Meninggalkan Sholat Wajib 5 Waktu

Hukum Meninggalkan Sholat Wajib 5 Waktu


Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja.


Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan ini.

Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar lainnya

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata,
“Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan,
“Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27)

Apakah orang yang meninggalkan shalat, kafir alias bukan muslim?

Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah telah kafir?

Asy Syaukani -rahimahullah- mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369).

Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini.

Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/186-187)


Jadi, intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk pula ulama madzhab.

Bagaimana hukum meninggalkan shalat menurut Al Qur’an dan As Sunnah? 

Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Al Qur’an. Banyak ayat yang membicarakan hal ini dalam Al Qur’an, namun yang kami bawakan adalah dua ayat saja.

Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)

Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.

Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mukmin, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah [9]: 11). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)

Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Hadits

Terdapat beberapa hadits yang membicarakan masalah ini.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566).

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.

Para sahabat ber-ijma’ (bersepakat) bahwa meninggalkan shalat adalah kafir

Umar mengatakan,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”

Dari jalan yang lain, Umar berkata,

ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam kitab Sunan-nya, juga Ibnu ‘Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash Sholah.

Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat para ulama yang ada.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” (Ash Sholah, hal. 56)

Berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat

[Kasus Pertama] Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, “Sholat oleh, ora sholat oleh.” [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.

[Kasus Kedua] Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in.

[Kasus Ketiga] Kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak sekaligus.

…Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617)

[Kasus Keempat] Kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.

[Kasus Kelima] Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman,

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107]: 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190)


Penutup

Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.”

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.” (Lihat Ash Sholah, hal. 12)

Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya dengan anggota badan).

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).”

Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.” (Lihat Ash Sholah, 35-36)

Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya meninggalkan shalat lima waktu.


Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.


Selesai disusun di Panggang, Gunung Kidul, 22 Jumadil Ula 1430 H
Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id





12.32 | 0 komentar | Read More

Keajaiban Waktu Sholat dan Kaitannya dengan Kesehatan

Keajaiban Waktu Sholat dan Kaitannya dengan Kesehatan
 
Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam ini yang boleh diukur dan dicerap melalui perubahan warna alam. 
 
a. Shubuh
Pada waktu Subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh.

Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahasia berkaitan dengan penawar/rezeki dan komunikasi. Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki.

Ini kerana tenaga alam iaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad bercantum (keserentakan ruang dan masa) - dalam erti kata lain jaga daripada tidur. Disini juga dapat kita cungkil akan rahsia diperintahkan solat diawal waktu.

Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenar sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.

b. Dhuha dan Dhuhur

Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau (isyraq & dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zohor. Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem penghadaman. Warna kuning ini mempunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya.

c. Ashar

Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oranye,yiaitu masuknya waktu Asar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduktif. Rahasia warna oranye ialah kreativitas. Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitasnya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar ni jasad dan roh seseorang ini terpisah. Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita

d. Maghrib 

Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini kerana spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka resonan dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu la.) kerana banyak interferens (pembelauan) berlaku pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita. Rahasia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.

e. Isya

Apabila masuk waktu Isyak, alam berubah ke warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan. Waktu Isyak ini menyimpan rahsia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak. Mereka yang kerap ketinggalan Isyaknya akan selalu berada dalam kegelisahan. Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini dipanggil tidur delta dimana keseluruhan sistem tubuh berada dalam kerehatan.

Selepas tengah malam, alam mula bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana ianya bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail.

Begitulah secara ringkas keterkaitan waktu solat dengan tubuh manusia. Manusia kini memang telah menyadari akan kepentingan tenaga alam ini dan inilah faktor penyebab munculnya bermacam-macam meditasi yang dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya. Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh.

Dan Kita sebagai umat Islam patut bersyukur kerana telah dikaruniai syariat sholat oleh Allah s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana hendak menyerap tenaga alam ini lewat berbagai macam tekhnik yang mulai tumbuh tadi. Hakikat ini seharusnya menyadarkan kita bahwa Allah s.w.t mewajibkan sholat atas hambanya atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai pencipta karena Dia tahu hamba-Nya ini amat-amat memerlukannya.

Adalah amat malang sekali bagi kumpulan manusia yang amat lalai dalam menjaga solatnya. Semua yang terdapat di alam ini adalah untuk manfaat segala makhluk2 nya.
 
 
03.42 | 0 komentar | Read More